Pages

Tampilkan postingan dengan label Wedding Invitation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wedding Invitation. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Mei 2014

Undangan Pernikahan Impian (Saya)

Sebagai seorang wanita yang punya mimpi pernikahan idaman, saya juga punya banyak cita-cita bagaimana pesta pernikahan saya nanti. Salah satunya mengenai undangan pernikahan.
Kini, banyak undangan pernikahan yang unik, yang berbentuk aneh-aneh dan lucu-lucu, entah dibuat dengan kertas yang unik, desain yang tidak biasa, atau aneka bentuk seperti undangan pernikahan pada umumnya. Sayangnya, meski seindah apapun undangan pernikahan, biasanya berakhir di tempat sampah para hadirin di rumah masing-masing. Sayang sekali bukan????

Undangan Pernikahan Bernuansa Facebook
Meski Facebook Punya Aplikasi Sendiri untuk Undangan, tapi Unik juga kan :)

Kalau boleh memilih, demi mengurangi pemanasan global, saya lebih suka undangan lewat media sosial. Entah path, facebook, messenger, atau lain sebagainya. Sebagai anak yang tumbuh di dunia modern, pasti lebih paham pentingnya menghemat dana maupun kelestarian lingkungan, serta memanfaatkan teknologi sebisa mungkin. Iya, kan??? Hehehhehe

Sayangnya masih banyak orang zaman sekarang yang hari gini masih minta undangan fisik seperti orang-orang era jaman baheula’. Mungkin orang-orang jenis ini haus penghormatan, sehingga mereka butuh undangan fisik. Toh belum tentu bisa datang ya. Hahahaha... nggak imbang banget.

Undangan Pernikahan Unik berupa Gelas
Namun, kalau memang harus dipaksaaaaa untuk membuat undangan fisik, saya ingin membuat undangan fisik yang berupa benda-benda bermanfaat, atau sesuatu yang unik dengan budget minim. Hehehhe

Kawan saya, menggunakan gelas sebagai undangan pernikahannya. Wah-wah... dijamin deh, undangan pernikahannya tidak akan berakhir di tempat sampah karena bisa dimanfaatkan setelah pergelaran pesta selesai. Dengan harga yang sama dengan undangan desain kertas endel-endel ini itu, undangan gelas kawan saya ini lebih bermanfaat. Salut J.

Mungkin langkah kawan saya itu bisa dicontoh, namun Kalau secara pribadi, kalau boleh memilih undangan yang unik, saya ingin membuat undangan yang mirip dengan SIM, alias Surat Izin Mengemudi yang diubah menjadi Surat Izin Menikah. Hahhahahahahah..... bentuknya dibuat benar seperti SIM, dengan foto dan desain yang sama. Lucu Sekali bukan???



Nantinya, seperti undangan pada umumnya, akan dimuat tempat, tanggal dan waktu perhelatan. Selain itu, sebagai pengantin yang ingin bersyukur atas pernikahan yang akan saya jalani, saya akan memberikan keterangan No Buwuh, No Amplop, dan No Rokok selama acara, dan nama saya dan salon suami tanpa dituliskan gelar, meski kami berdua sama-sama lulusan perguruan tinggi. Serius nih. Itu undangan pernikahan impian saya.


Pastinya, tugas tukang cetak langganan saya yaitu Dream Design creative yang akan ikut andil di dalamnya. Dont Miss it!!!

Minggu, 04 Mei 2014

Wedding Invitation : Penulisan Gelar Akademis di Undangan Pernikahan, (Masih) Perlukah?

Umumnya, dalam undangan pernikahan, seluruh gelar akademis dituliskan dalam undangan pernikahan. Entah memang prosedurnya yang demikian, atau faktor orang tua yang ingin menunjukkan kepada semua undangan betapa mereka berhasil menyekolahkan anaknya ke jenjang pendidikan perguruan tinggi.

Salah satu pasangan yang menikah dengan gelear yang setara
Congratulations yaaa.....!!!!! *tapi penulisan gelarnya salah -_-"
Ya, kadang ada beberapa orang tua yang sangat bangga dengan menantu dan pernikahan putra-putrinya, menginginkan jerih payah mereka telah menyekolahkan anak-anaknya hingga ke pencapaian tertentu begitu diutamakan. Sebuah undangan pernikahan lengkap dengan gelar-gelar yang panjang seakan sebuah jalan pintas untuk pengakuan 'kedaulatan edukasi' yang mewakili strata pendidikan apa yang telah mereka capai.

Ada pula yang anaknya belum memiliki gelar pendidikan apapun, tapi sudah pernah berhaji pun ikut-ikutan dicantumkan. xixixix..... 

Alhamdulillah, saya adalah lulusan master di sebuah perguruan tinggi negri di kota kedua terbesar di Indonesia. Saya adalah seorang yang ingin menikah dengan seorang pria yang gelarnya sarjana, setingkat di bawah saya.

Secara pribadi, saya tidak ingin mencantumkan gelar apapun, baik pendidikan atau haji sekalipun (meski belum sih) dalam undangan pernikahan saya. Ada beberapa faktor, salah satunya karena jenjang pendidikan saya lebih tinggi dibanding calon suami. Xixixixix.... kan kasian juga ya kalau istrinya lebih mentereng gelarnya. Hahahahah....


Tapi bagi orang yang tetap mencantumkan berbagai gelar yang telah dicapainya, semua itu sah-sah saja. Itu adalah hak mereka dan tidak ada yang boleh menghalanginya. Namun bila saya berbicara berdasarkan opini saya dari lubuk hati yang paling dalam.....

Ya, dari lubuk hati yang paling dalam, entah saya bergelar magister, sarjana atau sarjana muda sekalipun, saya tidak ingin memajang gelar saya di undangan pernikahan saya nanti. Bisa jadi karena saya tidak ingin tersangkut Riya’ alias pamer.

Alhamdulillah orang tua saya yang sudah haji berkali-kali pun, tidak pernah mendidik saya untuk memamerkan gelar hajinya setiap ada keperluan tanda tangan ini itu. Setiap ada pihak yang menantunkan huruf 'H.'atau 'Hj.' di depan nama orang tua saya, orang tua saya pun selalu mencoretnya. Gelar itu tidak penting, tidak ada apa-apanya dengan jihad perjuangan saudara-saudara kita di Palestina....

Alhamdulillah juga, orang tua saya yang sudah susah-susah menyekolahkan saya ke jenjang master juga tidak memaksa saya untuk mencantumkan gelar tersebut. Ternyata kami, orang tua dan anak yang kompak. Tidak perlu pamer. Yang terpenting adalah esensi pernikahan itu sendiri, sah dan direstui oleh semua pihak, semoga Allah meridhoi.

Biarlah itu menjadi rahasia keluarga kami, mengenai saya lulusan apa-ini-itu biarlah nanti orang-orang yang tahu-tahu sendiri. Buat saya, itu tidak penting, yang penting adalah doa supaya pernikahan saya nanti selalu diberkahi oleh Allah.... J