Pages

Tampilkan postingan dengan label Saran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saran. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Mei 2014

Tradisi Melempar Bunga Ala Barat : Perlukah????

Di sebuah pernikahan, selain ditempel di kendaraan pengantin, rangkaian bunga juga seakan jadi aksesoris wajib seorang pengantin wanita. Sebenarnya, budaya Indonesia sudah mengenal bunga sebagai penghias pengantin dengan kalung melati dan hiasan lainnya.

Tradisi Lempar Bunga : Tidak Ada Dalam Islam

Setelah sah ijab qabul, selain menggandeng dan bergelayut di lengan mempelai pria, pengantin perempuan biasanya membawa buket bunga yang indah. Namun, perkembangannya banyak pengantin Indonesia mengikutibudaya barat yang membawa buket bunga di tangannya, meskipun tidak ada manfaatnya dan hanya mempercantik tampilan. Hal ini bukan hal yang buruk sehingga bolehlah dilakukan dalam islam.

Buket Bunga Pengantin


Buket Bunga Pengantin
Tradisi lempar bunga yang dilakukan oleh pengantin putri dipercaya akan menularkan kemudahan jodoh bagi siapa yang bisa menangkap dan mendapatkan bunganya. Tradisi ini sama sekali tidak berdasar, dan tentunya islam samasekali tidak menyinggung akan hal ini.

Tradisi lempar bunga ini sangat terpengaruh akan budaya barat, dan kegiatan ini tidak bermanfaat. Akan menjurus ke syirik apabila mempercayai siapapun yang mendapat lemparan bunga tersebut akan menjadi the next bride. Dan syirik jelas dilarang oleh Islam.

Apabila seseorang yang lajang, menginginkan untuk segera didekatkan jodohnya, maka berdoalah. Percayalah bahwa doa yang tulus meminta kepada Allah akan selalu dikabulkan. Nah, pertanyaannya, sudah berdoa atau belum??? Akan semakin salah kaprah bila lebih mempercayai tradisi lempar bunga dibanding janji Allah tentang mengabulkan doa setiap hambanya.

"Dan Rabbmu berfirman:"Berdo'alah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk naar Jahannam dalam keadaan hina dina." (QS. Al-Mukmin : 60)



Jadi, kepada bride2be dan siapapun yang masih lajang, janganlah percaya tradisi demikian. Jangan juga ikut-ikutan meski hanya untuk senang-senang. Bolehlah bawa buket bunga untuk mempercantik tampilan, tapi tidak perlu dilempar baik diikuti kepercayaan tertentu, maupun hanya untuk senang-senang. Tradisi lempar bunga adalah tradisi barat, dan islam melarang untuk mengikuti budaya kafir dengan segala kepercayaannya yang tidak berdasar. Semoga kita bukan bagian dari golongan tersebut.

"Berdoalah, niscaya akan Kukabulkan"
Al-Mukmin : 60
Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut”(HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

Daripada mengikuti budaya kafir, sebaiknya kita membuat kegiatan sendiri yang jelas-jelas bermanfaat, misalnya prosesi simbolis berupa buwuhan pernikahan diserahkan untuk anak yatim dan anak berkebutuhan khusus, atau dihelat doa bersama mendoakan yang lajang untuk segera menyusul bertemu jodohnya. Lebih baik demikian daripada mainan lempar bunga yang tidak jelas.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ » . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ « وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ »“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ [HR. Bukhari no. 7319, dari Abu Hurairah] 

Semoga Bermanfaat. AMIN.

Silakan Bawa Buket Bunga, Tapi tidak perlu dilempar

Kamis, 22 Mei 2014

Souvenir Pernikahan Yang Bermanfaat

Souvenir pernikahan adalah bentuk ucapan terimakasih pada para hadirin yang telah berkenan datang dalam pesta perayaan pernikahan. Biasanya, souvenir ini diberikan pada saat hadirin masuk atau saat menjelang pulang dari acara pernikahan. Souvenir bisa berupa macam-macam, tergantung selera pengantin, situasi dan tema pernikahan, bahkan kondisi budget pengantin dan keluarganya. *kayaknya yang terakhir ini gue banget ya -_-*

Souvenir pengantin diberikan pada para hadirin sebaiknya di akhir pesta supaya mereka tidak kewalahan membawanya saat menyantap hidangan pernikahan. Namun, kadang souvenir pengantin diberikan di awal saat para hadirin masuk bisa jadi supaya tidak ada yang terlewat atau menghindari tamu-tamu yang lupa atau kehabisan. Hehehhe...

Souvenir itu terkadang disesuaikan dengan tema pernikahan, atau pekerjaan sang pengantin berbahagia. Sebagai contoh, kawan saya, seorang yang bergerak di bidang jual beli mobil, maka souvenirnya berupa sepasang kanebo pengelap mobil. Keren kan???

Pemilihan souvenir pernikahan harus dipikirkan matang-matang, karena berhubungan dengan penghormatan untuk para tamu dan berkenaan pula dengan limit budget. Selain itu, pemilihan souvenir yang unik juga harus dilakukan, mengingat bila kita memberikan souvenir yang sudah umum dan itu-itu saja, berapa banyak hadirin dalam pesta pernikahan kita menerima jenis siouvenir yang sama dari pernikahan-pernikahan lain yang akhirnya hanya sebagai pajangan atau menuh-menuhin lemari saja??? Ya, memang memilih jenis souvenir itu tidak mudah...............

Ada baiknya memang, sebuah souvenir itu bermanfaat digunakan untuk para tamu selanjutnya, bukan sebagai pajangan semata yang useless seperti lampu petromax.... 6-_- buat apa cobak... mana minyak gas udah mahal dan langka ginih....+_+


Ada contoh souvenir yang bermanfaat, misalnya paket sendok dan garpu makan, notes, buku bacaan, bahkan tanaman. Yang terakhir ini membuat saya sangat kagum, karena selain pro pada kelestarian lingkungan, tanaman ini bisa menjadikan penerimanya ‘dipaksa menjadi orang tua asuh’ bagi si tanaman tersebut. Akhirnya, tanaman itu bisa menjadikan hubungan ‘selamanya’ antara kenangan pesta pernikahan dan tamu yang hadir.

Souvenir Pernikahan Unik : Kaktus


Namun, bila ibu saya boleh berpendapat,,, berkatan konvensional adalah yang terbaik. Walau bagaimanapun, berkatan adalah supremasi tertinggi sebuah souvenir pernikahan. Meski hanya bisa ‘sekali saja digunakan’, namun anggota keluarga yang di rumah tidak ikut hadir dalam pesta pernikahan dapat ikut kenyang merasakan berkah pernikahan. Prinsip ibu saya ; tamunya kenyang, yang di rumah juga kenyang. Heheheh... Barakallah............ semoga bermanfaat.

Rabu, 21 Mei 2014

Wedding Ride : Jangan Jadi Ajang Gengsi

 

Setelah sah, sepasang pengantin biasanya mengendarai kendaraan pernikahan yang biasanya diberi hiasan bunga-bunga. Umumnya kendaraan ini berupa mobil yang seringnya mewah. Bahkan kadang juga ada mobil pengantin dengan plat nomor yang cantik juga. Olalaa.....


Ada juga pengantin yang tidak punya kendaraan, namun tetap ingin mengendarai kendaraan pengantin yang mewah seperti yang di tivi-tivi. Entah menyewa dari vendor gedung, fasilitas dari wedding organizer, maupun meminjam milik saudara yang punya mobil mewah. Bahkan ada pula penyedia khusus kendaraan pengantin. Akhirnya mereka rela merogoh kocek lebih dalam untuk sekedar gengsi.


Olala.... kalau misalnya nggak punya mobil ya jangan dipaksakan. Kalau bisa berhemat ya lebih baik berhemat. Yang sederhana saja, yang bersahaja. Misalnya naik becak, atau sepeda onthel.


Memang lebih baik pilihan dari beberapa pengantin yang menggunakan kendaraan yang unik seperti becak, sepeda, maupun kendaraan hasil jerih payahnya sendiri. Lebih membanggakan.


Nanti saat menikah, saya pribadi lebih suka mengendarai apa yang ada. Tidak perlu dihias buket bunga yang juga ngabisin duit yang tidak sedikit. Seadanya saja, nunut saudara saja. Tidak pinjam dan tidak berusaha meminjam. Sederhana dan bersahaja saja. Yang penting itu bukan pesta dan gengsinya, tapi bagaiamana kedua mempelai, mengarungi bahtera rumah tangga yang baru dibangun......................


Kalau Kate Middleton dan Pangeran William jelas ya, mereka pantes naik kereta kuda karena emang mereka keluarga kerajaan. Pernikahannya untuk rakyat, yang harus menyapa rakyat....

Kamis, 15 Mei 2014

Baju Pengantin Pria Muslim : Setelan Senada dengan Istrinya

Jas Pengantin Pria Elegan : No Payet, So Simple
Yaa Ampun Mupeng banget... :'(
Gaun pengantin muslimah memang segalanya dalam pernikahan, namun pakaian pengantin pria tidak boleh diabaikan. Adat juga harus diperhatikan, misalnya pengantin wanita menggunakan adat Jawa maka pengantin pria juga hendaknya menyesuaikan. Begitu pula dengan baju muslim atau gaya eropa. Akan sangat konyol bila pengantin wanita berpakaian Eropa sedangkan pengantin pria mengenakan baju adat jawa. Hendaknya keduanya selaras, karena menunjukkan bahwa mereka berpasangan.

Hanya saja, yang menjadi konyol adalah bila pengantin wanitanya mengenakan pakaian adat eropa yang seperti putri kerajaan sedangkan pengantin prianya beradat jawa. hehehehhe... Anda tidak ingin menjadi pasangan yang seperti itu, bukan??? hyahahhahaha... Semoga saja tidak. Sebaiknya bila Pengantin wanitanya mengenakan princess gown, maka pengantin prianya menggunakan jas yang warnanya senada. Misalnya putih....

Pengantin Pria dengan Setelan Jas Putih, Senada dengan Istrinya
Bila pengantin pria memilih untuk mengenakan suite atau jas, tidaklah ada masalah dengan pengantin wanitanya, entah mengenakan kebaya, atau menggunakan gaun. Beberapa kawan menyatakan cenderung lebih menyukai pria yang mengenakan jas yang warnanya sama dengan pakaian wanitanya.


Pengantin pria muslim bisa mengenakan baju muslim dalam pernikahannya. Desain baju pengantin muslim pria tidak terlalu beragam, umumnya baju standar lengan panjang yang serasi dengan celananya. Idealnya, kesekian kali Bride Theory menyatankan ; pengantin pria hendaknya menggunakan warna yang senada atau serasi dengan pengantin wanitanya. Umumnya, kedua pengantin menggunakan nuansa putih dalam akad, dan nuansa berwarna-warni dalam resepsi. Namun apabila dibalik atau tidak mengikuti umumnya, tidaklah mengapa.

Pasangan Pengantin Saat Resepsi : Pakaiannya Senada

Yang pasti, pakaian pengantin pria yang gemerlap penuh payet mengingatkan saya pada seseorang : Ustad Aad Ainurussalam.

Bride Gown by Irna La Perle
Groomwear ala Ustad Aad Ainurussalam

Saya sering sekali menonton Ustad Aad Ainurussalam di JTV. Yaa... saya juga mengakui suka mendengarkan ceramahnya yang ugal-ugalan itu. Kebetulan Ustad Aad yang merasa sangat tampan ini adalah tetangga sahabat saya, jadi saya pernah besua secara langsung. Gaya Ustad yang suka ngaco dan agak kemayu ini sering membuat para ibu terbahak-bahak saat beliau berceramah. Mungkin untuk diferensiasi, ustad ini berdandan seperti pengantin di setiap kemunculannya.

Ustad Aad Aiunurussalam

Dalam setiap penampilannya, Ustad Aad selalu menggunakan baju pengantin pria yang kadang bagian bawahannya seperti rok maxi. Baju pengantin pria ini seringnya warna-warni dan berpayet di sana-sini, gemerlapan seakan tidak ingin kalah berkilau dengan hebohnya pengantin wanita. Beliau duduk di sebuah kursi seperti pelaminan, dan kadang bernyanyi dangdut dan india diiringi backing vocal yang berkostum seperti pengantin. Tak jarang, dalam penampilannya, ustad Aad berjoget-joget dangdut meliuk-liuk. Astagaaaaaa............... akhirnya para penonton yang mayoritas ibu-ibu tak kuasa menahan airmata karena kegelian dan tertawa terpingkal-pingkal.


Nah, akhirnya, bila saya ke sebuah pernikahan, dan mendapati pengantin prianya mengenakan baju penuh payet yang berkilauan dan berwarna-warni, maka saya ingat ustad Aad seketika. Allahuakbar....


Idealnya, untuk saya, pengantin pria saya nantinya jangan mengenakan pakaian seperti ustad Aad. Allahuakbarrrrrrrrrrr..................... hehehhe... mosok pake celana kulot yang kayak rok maxi???!!! Karena saya hanya mengadakan satu acara yaitu akad di masjid mungkin jas rasanya kurang sopan karena mirip dengan umat agama lain. Maka pilihan satu-satunya adalah baju pengantin pria muslim hanya warna putih. Dan hendaknya desain jangan seperti ustad Aad.... Bisa dengan baju pengantin pria muslim non-desain ustad Aad yang dilengkapi rompi atau baju basofi Jawa Timuran yang putih polos tanpa payet.

Pernikahan Impian : Gaun yang Indah dan
Diselenggarakan di Bulan Ramadhan

Atau kalau terpaksa tidak menemukan baju yang dimaksud, hendaknya baju ustad Aadnya warna harus senada dengan saya, yaitu putih. Atau kalau ada toleransi jangan terlalu banyak payet. Kalau masih belum nemu juga..... ya tak apalah baju penuh payet tapi payetnya yang bagus dan tidak murahan dengan desain yang keren dilengkapi rompi....

Pakaian Pengantin Pria Elegan : Nyari dimana yang kayak gini dan warna putih???
*Jangan jawab BIKIN SENDIRI ya -_-"* 

Kalau baju pengantin pria saya nantinya seperti ustad Aad.... rasanya langsung terbayang jogetannya berserta ibu-ibu yang menutup mulutnya sambil menahan tawa  ... :’(  


Ibu-ibu Penonton Ceramah Ustad Aad Ainurussalam

Senin, 12 Mei 2014

Undangan Pernikahan Impian (Saya)

Sebagai seorang wanita yang punya mimpi pernikahan idaman, saya juga punya banyak cita-cita bagaimana pesta pernikahan saya nanti. Salah satunya mengenai undangan pernikahan.
Kini, banyak undangan pernikahan yang unik, yang berbentuk aneh-aneh dan lucu-lucu, entah dibuat dengan kertas yang unik, desain yang tidak biasa, atau aneka bentuk seperti undangan pernikahan pada umumnya. Sayangnya, meski seindah apapun undangan pernikahan, biasanya berakhir di tempat sampah para hadirin di rumah masing-masing. Sayang sekali bukan????

Undangan Pernikahan Bernuansa Facebook
Meski Facebook Punya Aplikasi Sendiri untuk Undangan, tapi Unik juga kan :)

Kalau boleh memilih, demi mengurangi pemanasan global, saya lebih suka undangan lewat media sosial. Entah path, facebook, messenger, atau lain sebagainya. Sebagai anak yang tumbuh di dunia modern, pasti lebih paham pentingnya menghemat dana maupun kelestarian lingkungan, serta memanfaatkan teknologi sebisa mungkin. Iya, kan??? Hehehhehe

Sayangnya masih banyak orang zaman sekarang yang hari gini masih minta undangan fisik seperti orang-orang era jaman baheula’. Mungkin orang-orang jenis ini haus penghormatan, sehingga mereka butuh undangan fisik. Toh belum tentu bisa datang ya. Hahahaha... nggak imbang banget.

Undangan Pernikahan Unik berupa Gelas
Namun, kalau memang harus dipaksaaaaa untuk membuat undangan fisik, saya ingin membuat undangan fisik yang berupa benda-benda bermanfaat, atau sesuatu yang unik dengan budget minim. Hehehhe

Kawan saya, menggunakan gelas sebagai undangan pernikahannya. Wah-wah... dijamin deh, undangan pernikahannya tidak akan berakhir di tempat sampah karena bisa dimanfaatkan setelah pergelaran pesta selesai. Dengan harga yang sama dengan undangan desain kertas endel-endel ini itu, undangan gelas kawan saya ini lebih bermanfaat. Salut J.

Mungkin langkah kawan saya itu bisa dicontoh, namun Kalau secara pribadi, kalau boleh memilih undangan yang unik, saya ingin membuat undangan yang mirip dengan SIM, alias Surat Izin Mengemudi yang diubah menjadi Surat Izin Menikah. Hahhahahahahah..... bentuknya dibuat benar seperti SIM, dengan foto dan desain yang sama. Lucu Sekali bukan???



Nantinya, seperti undangan pada umumnya, akan dimuat tempat, tanggal dan waktu perhelatan. Selain itu, sebagai pengantin yang ingin bersyukur atas pernikahan yang akan saya jalani, saya akan memberikan keterangan No Buwuh, No Amplop, dan No Rokok selama acara, dan nama saya dan salon suami tanpa dituliskan gelar, meski kami berdua sama-sama lulusan perguruan tinggi. Serius nih. Itu undangan pernikahan impian saya.


Pastinya, tugas tukang cetak langganan saya yaitu Dream Design creative yang akan ikut andil di dalamnya. Dont Miss it!!!

Minggu, 04 Mei 2014

Wedding Invitation : Penulisan Gelar Akademis di Undangan Pernikahan, (Masih) Perlukah?

Umumnya, dalam undangan pernikahan, seluruh gelar akademis dituliskan dalam undangan pernikahan. Entah memang prosedurnya yang demikian, atau faktor orang tua yang ingin menunjukkan kepada semua undangan betapa mereka berhasil menyekolahkan anaknya ke jenjang pendidikan perguruan tinggi.

Salah satu pasangan yang menikah dengan gelear yang setara
Congratulations yaaa.....!!!!! *tapi penulisan gelarnya salah -_-"
Ya, kadang ada beberapa orang tua yang sangat bangga dengan menantu dan pernikahan putra-putrinya, menginginkan jerih payah mereka telah menyekolahkan anak-anaknya hingga ke pencapaian tertentu begitu diutamakan. Sebuah undangan pernikahan lengkap dengan gelar-gelar yang panjang seakan sebuah jalan pintas untuk pengakuan 'kedaulatan edukasi' yang mewakili strata pendidikan apa yang telah mereka capai.

Ada pula yang anaknya belum memiliki gelar pendidikan apapun, tapi sudah pernah berhaji pun ikut-ikutan dicantumkan. xixixix..... 

Alhamdulillah, saya adalah lulusan master di sebuah perguruan tinggi negri di kota kedua terbesar di Indonesia. Saya adalah seorang yang ingin menikah dengan seorang pria yang gelarnya sarjana, setingkat di bawah saya.

Secara pribadi, saya tidak ingin mencantumkan gelar apapun, baik pendidikan atau haji sekalipun (meski belum sih) dalam undangan pernikahan saya. Ada beberapa faktor, salah satunya karena jenjang pendidikan saya lebih tinggi dibanding calon suami. Xixixixix.... kan kasian juga ya kalau istrinya lebih mentereng gelarnya. Hahahahah....


Tapi bagi orang yang tetap mencantumkan berbagai gelar yang telah dicapainya, semua itu sah-sah saja. Itu adalah hak mereka dan tidak ada yang boleh menghalanginya. Namun bila saya berbicara berdasarkan opini saya dari lubuk hati yang paling dalam.....

Ya, dari lubuk hati yang paling dalam, entah saya bergelar magister, sarjana atau sarjana muda sekalipun, saya tidak ingin memajang gelar saya di undangan pernikahan saya nanti. Bisa jadi karena saya tidak ingin tersangkut Riya’ alias pamer.

Alhamdulillah orang tua saya yang sudah haji berkali-kali pun, tidak pernah mendidik saya untuk memamerkan gelar hajinya setiap ada keperluan tanda tangan ini itu. Setiap ada pihak yang menantunkan huruf 'H.'atau 'Hj.' di depan nama orang tua saya, orang tua saya pun selalu mencoretnya. Gelar itu tidak penting, tidak ada apa-apanya dengan jihad perjuangan saudara-saudara kita di Palestina....

Alhamdulillah juga, orang tua saya yang sudah susah-susah menyekolahkan saya ke jenjang master juga tidak memaksa saya untuk mencantumkan gelar tersebut. Ternyata kami, orang tua dan anak yang kompak. Tidak perlu pamer. Yang terpenting adalah esensi pernikahan itu sendiri, sah dan direstui oleh semua pihak, semoga Allah meridhoi.

Biarlah itu menjadi rahasia keluarga kami, mengenai saya lulusan apa-ini-itu biarlah nanti orang-orang yang tahu-tahu sendiri. Buat saya, itu tidak penting, yang penting adalah doa supaya pernikahan saya nanti selalu diberkahi oleh Allah.... J

Kamis, 01 Mei 2014

Solusi Adat Bersalaman dan Pengganti Mahendi : Penggunaan Sarung Tangan Dalam Pernikahan

Tidak semua tamu undangan pernikahan adalah muhrim dan mahram, sehingga saat bersalaman dengan para tamu, seorang pengantin terpaksa harus berjabat tangan dengan lawan jenis, meski hanya sekedar mengucapkan dan menerima selamat.


Salam, bisa menjadi bentuk penghormatan dan keramahan serta ucapan selamat untuk orang lain. Di Indonesia, ucapan salamnya masih seperti pada umumnya dengan berjabat tangan atau bahkan berpelukan untuk sebagian orang.

Ojigi : Bikin Ngiri Karena Tanpa Bersentuhan
Sesungguhnya, berjabat tangan antar lawan jenis itu boleh selama tidak disertai dengan syahwat. Namun untuk prinsip kehati-hatian dan komitmen kita terhadap larangan bersentuhan bukan muhrim, bila ada opsi untuk tidak bersalaman mungkin bisa dipilih. Misalnya bersalaman tanpa saling menyentuh kulit, bisa pula dengan mengatupkan kedua tangan seperti salam orang India dan Thailand atau menunduk seperti orang Jepang yang disebut dengan Ojigi. *Jadi ingiri ya sama orang India dan Jepang, gak usah bersentuhan waktu salaman*

Untung deh Indonesia gak punya tradisi salam adu hidung seperti di Selandia Baru ya
Selain gak cocok sama budaya Indonesia, hidung orang Indonesia juga pesek,,,
apanya yang diadu??? hehehhehe
Berjabat tangan antar lawan jenis bisa menjadi bentuk aktivitas yang mungkin kurang sesuai dalam pandangan Islam. Solusinya, seperti contoh Pak Ahmadinejad pada gambar dan Pria teladan di pengadilan yang menghormat di dada. Bisa juga dengan mengatupkan kedua tangan saja, atau bersalaman tapi tanpa bersentuhan.

Menunduk Tanpa Bersalaman

 Menghormat di dada dan bersalaman tanpa bersentuhan


Salam Dengan Mengatupkan Tangan

Namun tetap saja, kadang ada orang yang kurang mengerti batasan-batasan Islam seperti ini. Supaya tamu yang tidak mengerti itu tidak tersinggung, pengantin kemudian terpaksa tetap bersalaman seperti adat bersalaman di Indonesia pada umumnya.


Nah, apabila bride2be terjebak dalam keadaan seperti ini, maka sarung tangan bisa jadi solusi. Pengantin tetap bisa berjabat tangan tanpa menyentuh langsung kulit tangan para tamu, dan tetap menghormati mereka. Hehehhe.... 


Selain menjadi solusi, sarung tangan juga bisa menjadi penutup dari ‘perhiasan yang ada pada wanita’. Ada pula fungsi lain, bila kulit kita eksotis layaknya wanita tropis pada umumnya, maka sarung tangan juga jadi solusi menutupi perbedaan warna wajah dan tangan yang menjadi jauh berbeda karena riasan pengantin. Hehehhehe.......


Sarung tangan bisa didapat dimanapun. Misalnya di toko peralatan upacara dan seragam, atau di bridal. Saya sudah siapkan sarung tangan sederhana yang saya beli di bridal, nantinya akan saya hias dengan bunga rajut yang saya beli secara terpisah. Hehehhehe.....

Pengantin yang Menggunakan Sarung Tangan
Solusi ini bagi saya juga bisa menggantikan fungsi mahendi pernikahan yang saya juga kurang suka mengenakannya. Kalau mahendi, bayar mahal-mahal kemudian memudar dalam beberapa hari. Sedangkan sarung tangan, bisa jadi kenang-kenangan pernikahan selamanya. Jadi, para Bride2be, pilihlah sarung tangan yang imut dan lucu untuk pernikahanmu ya...

Karena Salam Kita itu Untuk Suami..........................

Minggu, 27 April 2014

Penggunaan Mahendi Pengantin Dalam Pernikahan

Henna atau inai atau mahendi adalah bubuk tumbuh-tumbuhan yang dicampur air, kemudian dibubuhkan dengan pola di tangan, kaki, perut atau punggung wanita yang umumnya dikenakan dalam prosesi pernikahan. Motif henna bisa beragam, sesuai dengan kreativitas penggambarnya.

Seni menggambar tubuh ini dengan mahendi ini berbeda dengan seni melukis tubuh seperti Madame de Syuga. Body Painting menggunakan tubuh sebagai kanvas dengan kuas atau peralatan melukis umumnya.
Madame de Syuga

Sedangkan mahendi menggunakan bubuk pacar yang dilukis dengan pola tertentu yang biasanya tumbuh-tumbuhan, kemudian dibiarkan mengering hingga akhirnya meninggalkan bekas warna seperti merah, kuning, oranye atau hitam. Bekas pola warna ini akan bertahan selama beberapa hari, kemudian bisa digambar ulang sesuka hati misalnya dengan motif lain.


Apabila lukisan henna yang belum kering rusak karena tersenggol sesuatu, maka henna akan meninggalkan bekas jembret di daerah yang terkena luberan henna. Hal ini tidak jarang terjadi, yang pernah diabadikan dalam salah satu episode sitkom “New Girl”, dimana Cece yang akan menikah tidak sengaja tertidur diatas tangannya yang terkena henna... xixixixi....... beruntung Cece mampu mengatasi masalah tersebut, meski akhirnya acara pernikahannya tidak berjalan lancar.


Cece yag ketiduran saat mengenakan Mahendinya masih basah

Henna yang bersifat sementara sehingga bisa hilang dalam beberapa hari dan tetap halal. Mahendi juga berbeda dengan tattoo yang permanen dan haram hukumnya. Jadi, bagi muslimah yang beriman, apabila menginginkan tubuhnya digambar namun tetap dengan cara yang halal, maka inai bisa jadi solusi. Namun dengan pernyataan artikel ini maka hukum inai dibadan jadi agak membingungkan. 


Dari segi hukum Islam, penggunaan Henna ini disunnahkan oleh Rasulullah. Rasulullah, menyarankan memakai mahendi ini sebagai pembeda antara laki-laki dengan perempuan, sehingga perempuan lebih mudah dikenali.

Dari Aisyah ra, “Nabi melihat tangan di sebalik tirai dan berkata, apakah ini tangan lelaki atau perempuan, maka dikatakan itu tangan perempuan, maka Nabi pun bersabda,” jika kamu seorang perempuan, pasti kamu akan mengubah warna kuku kamu (dgn inai).” (Abu Daud, 4166) dan anNasa’iy (5092).

Nah, opini saya, saya mungkin akan memakai henna, tidak perlu menunggu saat menikah. Sehari-haripun saya bisa memakainya. Tapi, secara pribadi saya tidak terlalu suka dengan inai. 
 
Keengganan saya menggunakan inai muncul saat menonton film india di masa kanak-kanak dulu. Mengapa?? Karena menurut saya, penggunaan mahendi pada pengantin dan wanita India membuat tangan mereka terlihat seperti dikerubungi semut atau bahkan seperti terlihat terluka berdarah-darah karena warnanya yang merah.



Kaki dan tangannya seperti berdarah...

Meski disunnahkan Rasulullah, saya mungkin akan menggunakan alternatif lain untuk identitas kewanitaan saya, misalnya dengan penggunaan cincin feminin atau sarung tangan yang sangat cute.

Sarung Tangan Pengantin,
tanpa Henna, tanpa 'darah', tanpa tragedu Cece.
Hehhehehe.....

Jadi, mungkin saat pernikahan saya nanti, kalau terpaksa menggunakan inai, mungkin saya akan memakau yang berwarna terang, sehingga tidak seperti berdarah. heheheh... tapi idaman saya, saya akan menggunakan sarung tangan yang cantik. Selain cantik dilihat, Sarung Tangan Pengantin bisa mengurangi kontak sentuhan saat bersalaman dengan para tamu yang bukan muhrim. Iya kan??? J

Mahendi Pengantin Berwarna terang, jadi seperti tidak berdarah