Pages

Rabu, 14 Mei 2014

Wedding Bouquet : Mungil Simpel

Buket Bunga Kate Middleton
Salah satu obsesi pengantin saya nanti adalah membawa buket bunga pengantin berupa brokoli. Hehhehehe.... Namun kalau dimarahi ibu atas kenylenehan saya, mungkin saya perlu mempertimbangkan jenis bunga yang akan saya bawa kemana-mana itu.

Kalau boleh memilih, saya akan memilih buketbunga yang kecil saja, yang memanjang dan tidak membundar seperti bentuk brokoli. (*aduh brokoli lagi!!!!). Oke kembali ke leptop. Saya akan memilih desain rangkaian bunga ala Kate Middleton, yang tidak melulu bunga mawar seperti pada umumnya, dan memanjang seperti bunga gantung yang menjalar. Ah... bagus sekali...

Buket Bunga Pengantin Tradisi Barat : Bunga Lily
Sebenarnya, budaya Indonesia sudah mengenal bunga sebagai penghias pengantin dengan kalung melati dan hiasan lainnya. Namun, perkembangannya banyak pengantin Indonesia mengikuti budaya barat yang membawa buket bunga di tangannya, meskipun tidak ada manfaatnya dan hanya mempercantik tampilan. Hal ini bukan hal yang buruk sehingga bolehlah dilakukan.

Tapi berhubung tradisi keluarga saya yang tidak mau repot urusan pernikahan, mungkin mimpi punya buket bunga Ala Kate Middleton harus dicoret. Sepertinya supaya ringkas dan super simpel, bunga yang nanti dipegang pake gladiol atau bunga lily tiga tangkai aja. Bukan berupa buket. Sederhana tapi tetap cantik. Seperti pengantin anggun ala Irna La Perle ini....

Senin, 12 Mei 2014

Undangan Pernikahan Impian (Saya)

Sebagai seorang wanita yang punya mimpi pernikahan idaman, saya juga punya banyak cita-cita bagaimana pesta pernikahan saya nanti. Salah satunya mengenai undangan pernikahan.
Kini, banyak undangan pernikahan yang unik, yang berbentuk aneh-aneh dan lucu-lucu, entah dibuat dengan kertas yang unik, desain yang tidak biasa, atau aneka bentuk seperti undangan pernikahan pada umumnya. Sayangnya, meski seindah apapun undangan pernikahan, biasanya berakhir di tempat sampah para hadirin di rumah masing-masing. Sayang sekali bukan????

Undangan Pernikahan Bernuansa Facebook
Meski Facebook Punya Aplikasi Sendiri untuk Undangan, tapi Unik juga kan :)

Kalau boleh memilih, demi mengurangi pemanasan global, saya lebih suka undangan lewat media sosial. Entah path, facebook, messenger, atau lain sebagainya. Sebagai anak yang tumbuh di dunia modern, pasti lebih paham pentingnya menghemat dana maupun kelestarian lingkungan, serta memanfaatkan teknologi sebisa mungkin. Iya, kan??? Hehehhehe

Sayangnya masih banyak orang zaman sekarang yang hari gini masih minta undangan fisik seperti orang-orang era jaman baheula’. Mungkin orang-orang jenis ini haus penghormatan, sehingga mereka butuh undangan fisik. Toh belum tentu bisa datang ya. Hahahaha... nggak imbang banget.

Undangan Pernikahan Unik berupa Gelas
Namun, kalau memang harus dipaksaaaaa untuk membuat undangan fisik, saya ingin membuat undangan fisik yang berupa benda-benda bermanfaat, atau sesuatu yang unik dengan budget minim. Hehehhe

Kawan saya, menggunakan gelas sebagai undangan pernikahannya. Wah-wah... dijamin deh, undangan pernikahannya tidak akan berakhir di tempat sampah karena bisa dimanfaatkan setelah pergelaran pesta selesai. Dengan harga yang sama dengan undangan desain kertas endel-endel ini itu, undangan gelas kawan saya ini lebih bermanfaat. Salut J.

Mungkin langkah kawan saya itu bisa dicontoh, namun Kalau secara pribadi, kalau boleh memilih undangan yang unik, saya ingin membuat undangan yang mirip dengan SIM, alias Surat Izin Mengemudi yang diubah menjadi Surat Izin Menikah. Hahhahahahahah..... bentuknya dibuat benar seperti SIM, dengan foto dan desain yang sama. Lucu Sekali bukan???



Nantinya, seperti undangan pada umumnya, akan dimuat tempat, tanggal dan waktu perhelatan. Selain itu, sebagai pengantin yang ingin bersyukur atas pernikahan yang akan saya jalani, saya akan memberikan keterangan No Buwuh, No Amplop, dan No Rokok selama acara, dan nama saya dan salon suami tanpa dituliskan gelar, meski kami berdua sama-sama lulusan perguruan tinggi. Serius nih. Itu undangan pernikahan impian saya.


Pastinya, tugas tukang cetak langganan saya yaitu Dream Design creative yang akan ikut andil di dalamnya. Dont Miss it!!!

Minggu, 04 Mei 2014

Wedding Invitation : Penulisan Gelar Akademis di Undangan Pernikahan, (Masih) Perlukah?

Umumnya, dalam undangan pernikahan, seluruh gelar akademis dituliskan dalam undangan pernikahan. Entah memang prosedurnya yang demikian, atau faktor orang tua yang ingin menunjukkan kepada semua undangan betapa mereka berhasil menyekolahkan anaknya ke jenjang pendidikan perguruan tinggi.

Salah satu pasangan yang menikah dengan gelear yang setara
Congratulations yaaa.....!!!!! *tapi penulisan gelarnya salah -_-"
Ya, kadang ada beberapa orang tua yang sangat bangga dengan menantu dan pernikahan putra-putrinya, menginginkan jerih payah mereka telah menyekolahkan anak-anaknya hingga ke pencapaian tertentu begitu diutamakan. Sebuah undangan pernikahan lengkap dengan gelar-gelar yang panjang seakan sebuah jalan pintas untuk pengakuan 'kedaulatan edukasi' yang mewakili strata pendidikan apa yang telah mereka capai.

Ada pula yang anaknya belum memiliki gelar pendidikan apapun, tapi sudah pernah berhaji pun ikut-ikutan dicantumkan. xixixix..... 

Alhamdulillah, saya adalah lulusan master di sebuah perguruan tinggi negri di kota kedua terbesar di Indonesia. Saya adalah seorang yang ingin menikah dengan seorang pria yang gelarnya sarjana, setingkat di bawah saya.

Secara pribadi, saya tidak ingin mencantumkan gelar apapun, baik pendidikan atau haji sekalipun (meski belum sih) dalam undangan pernikahan saya. Ada beberapa faktor, salah satunya karena jenjang pendidikan saya lebih tinggi dibanding calon suami. Xixixixix.... kan kasian juga ya kalau istrinya lebih mentereng gelarnya. Hahahahah....


Tapi bagi orang yang tetap mencantumkan berbagai gelar yang telah dicapainya, semua itu sah-sah saja. Itu adalah hak mereka dan tidak ada yang boleh menghalanginya. Namun bila saya berbicara berdasarkan opini saya dari lubuk hati yang paling dalam.....

Ya, dari lubuk hati yang paling dalam, entah saya bergelar magister, sarjana atau sarjana muda sekalipun, saya tidak ingin memajang gelar saya di undangan pernikahan saya nanti. Bisa jadi karena saya tidak ingin tersangkut Riya’ alias pamer.

Alhamdulillah orang tua saya yang sudah haji berkali-kali pun, tidak pernah mendidik saya untuk memamerkan gelar hajinya setiap ada keperluan tanda tangan ini itu. Setiap ada pihak yang menantunkan huruf 'H.'atau 'Hj.' di depan nama orang tua saya, orang tua saya pun selalu mencoretnya. Gelar itu tidak penting, tidak ada apa-apanya dengan jihad perjuangan saudara-saudara kita di Palestina....

Alhamdulillah juga, orang tua saya yang sudah susah-susah menyekolahkan saya ke jenjang master juga tidak memaksa saya untuk mencantumkan gelar tersebut. Ternyata kami, orang tua dan anak yang kompak. Tidak perlu pamer. Yang terpenting adalah esensi pernikahan itu sendiri, sah dan direstui oleh semua pihak, semoga Allah meridhoi.

Biarlah itu menjadi rahasia keluarga kami, mengenai saya lulusan apa-ini-itu biarlah nanti orang-orang yang tahu-tahu sendiri. Buat saya, itu tidak penting, yang penting adalah doa supaya pernikahan saya nanti selalu diberkahi oleh Allah.... J

Sabtu, 03 Mei 2014

The Wedding Veil : Simple and Elegant

Pengantin Cantik Berkerudung ala Irna La Perle

Seperti biasa, ini mimpi saya : Sebuah kerudung pengantin yang simpel dan elegan. Sederhana tapi tetap mewah. Meski saya paham mengenai batasan-batasan kerudung pengantin syar’i yang benar, namun setidaknya saya ingin mengenakan kerudung idaman saya, seperti yang saya impikan.... :’(

Ya, kerudung impian saya haruslah elegan dan simpel. Sederhana tapi semua orang suka dengan kesederhanaannya. Tidak terlalu tinggi, tidak heboh, tidak banyak tumpukan-tumpukan sana-sini, tidak nglewer dan bukan jilbab kantong, yang ringkas dan sederhana. Seperti mbak Zaskia Mecca saat menikah, dengan mengenakan gaun pengantin ala Irna La Perle yang anggun dan mempesona itu. Masyaallah........ cantiknyaaaaaaaa........................

Mbak Zaskia Mecca Saat Menikah

Hiasan Jilbabnya sederhana tapi berkilauan. Ninja dengan aksen glitternya itu sudah tampak mewah dengan sendirinya, meski kerudungnya sederhana. Sama sekali tidak bergaya ndeso!! Aaaaaaahhh... mupeeeeng.......

Inner Veil Glitter by Irna La Perle

Lalu, saya ingin nanti aksesoris pengantinnya juga bukan berupa mahkota yang tinggi menjulang seperti menara. Kalau pun mahkota, yaaah... yang sederhana mungil saja supaya mempelai prianya nggak kalah tinggi. Xixixixixi...........

Pengantin Cantik : Tanpa Mahkota Menjulang

Supaya terlihat wah dan ada blegernya, aksesorisnya juga bukan aksesoris sembarangan. Tapi aksesoris yang memang sederhana tapi memancarkan pesona pengantin muslimah. Ya, aksesorisnya tentu adalah by Irna La Perle juga. Hahahha........... masyaallah. Harganya sama seperti sebongkah cincin emas 70%. Rasanya rela ya nggak makan sebulan..

Aksesoris Mewah Irna La Perle


Aksesoris by Irna La Perle ini memang paling sip menurut saya. Bahkan sang perancang, ibu irna Mutiara lah yang menjadi trendsetter busana muslimah Indonesia saat ini. Jadi, bagi orang-orang yang paham merek, pastilah mengenali ini aksesoris siapa, irna la perle atau bukan, asli atau bukan. Tapi, bermimpi boleh, kan J


Mbak Cantik bergaun Irna La Perle ini tampak sangat bahagia dengan pernikahannya. Aura pengantinnya terpancar, gaunnya sangat anggun, headpiecenya simpel elegan.... terlihat makin cantik...

Kamis, 01 Mei 2014

Solusi Adat Bersalaman dan Pengganti Mahendi : Penggunaan Sarung Tangan Dalam Pernikahan

Tidak semua tamu undangan pernikahan adalah muhrim dan mahram, sehingga saat bersalaman dengan para tamu, seorang pengantin terpaksa harus berjabat tangan dengan lawan jenis, meski hanya sekedar mengucapkan dan menerima selamat.


Salam, bisa menjadi bentuk penghormatan dan keramahan serta ucapan selamat untuk orang lain. Di Indonesia, ucapan salamnya masih seperti pada umumnya dengan berjabat tangan atau bahkan berpelukan untuk sebagian orang.

Ojigi : Bikin Ngiri Karena Tanpa Bersentuhan
Sesungguhnya, berjabat tangan antar lawan jenis itu boleh selama tidak disertai dengan syahwat. Namun untuk prinsip kehati-hatian dan komitmen kita terhadap larangan bersentuhan bukan muhrim, bila ada opsi untuk tidak bersalaman mungkin bisa dipilih. Misalnya bersalaman tanpa saling menyentuh kulit, bisa pula dengan mengatupkan kedua tangan seperti salam orang India dan Thailand atau menunduk seperti orang Jepang yang disebut dengan Ojigi. *Jadi ingiri ya sama orang India dan Jepang, gak usah bersentuhan waktu salaman*

Untung deh Indonesia gak punya tradisi salam adu hidung seperti di Selandia Baru ya
Selain gak cocok sama budaya Indonesia, hidung orang Indonesia juga pesek,,,
apanya yang diadu??? hehehhehe
Berjabat tangan antar lawan jenis bisa menjadi bentuk aktivitas yang mungkin kurang sesuai dalam pandangan Islam. Solusinya, seperti contoh Pak Ahmadinejad pada gambar dan Pria teladan di pengadilan yang menghormat di dada. Bisa juga dengan mengatupkan kedua tangan saja, atau bersalaman tapi tanpa bersentuhan.

Menunduk Tanpa Bersalaman

 Menghormat di dada dan bersalaman tanpa bersentuhan


Salam Dengan Mengatupkan Tangan

Namun tetap saja, kadang ada orang yang kurang mengerti batasan-batasan Islam seperti ini. Supaya tamu yang tidak mengerti itu tidak tersinggung, pengantin kemudian terpaksa tetap bersalaman seperti adat bersalaman di Indonesia pada umumnya.


Nah, apabila bride2be terjebak dalam keadaan seperti ini, maka sarung tangan bisa jadi solusi. Pengantin tetap bisa berjabat tangan tanpa menyentuh langsung kulit tangan para tamu, dan tetap menghormati mereka. Hehehhe.... 


Selain menjadi solusi, sarung tangan juga bisa menjadi penutup dari ‘perhiasan yang ada pada wanita’. Ada pula fungsi lain, bila kulit kita eksotis layaknya wanita tropis pada umumnya, maka sarung tangan juga jadi solusi menutupi perbedaan warna wajah dan tangan yang menjadi jauh berbeda karena riasan pengantin. Hehehhehe.......


Sarung tangan bisa didapat dimanapun. Misalnya di toko peralatan upacara dan seragam, atau di bridal. Saya sudah siapkan sarung tangan sederhana yang saya beli di bridal, nantinya akan saya hias dengan bunga rajut yang saya beli secara terpisah. Hehehhehe.....

Pengantin yang Menggunakan Sarung Tangan
Solusi ini bagi saya juga bisa menggantikan fungsi mahendi pernikahan yang saya juga kurang suka mengenakannya. Kalau mahendi, bayar mahal-mahal kemudian memudar dalam beberapa hari. Sedangkan sarung tangan, bisa jadi kenang-kenangan pernikahan selamanya. Jadi, para Bride2be, pilihlah sarung tangan yang imut dan lucu untuk pernikahanmu ya...

Karena Salam Kita itu Untuk Suami..........................

Senin, 28 April 2014

The Wedding Veil Rules : Yang Syar'i Yang Bersahaja

Siti Nurhaliza Saat Menikah
Bagi pengantin muslim, Kerudung Pengantin layaknya sebuah mahkota. Selain sebagai sebuah identitas muslimah, kerudung pengantin juga akan melengkapi tampilan cantik dan sucinya mempelai wanita di hari bahagianya.

Sering disebut Wedding Veil, kerudung pengantin Indonesia biasanya sangat heboh dan dipengaruhi tren serta adat istiadat yang diusung dalam tema pernikahan.

Seorang muslimah yang bersahaja, hendaknya mengenakan kerudung pengantin yang simpel dan elegan. Ada beberapa batasan-batasan yang ditetapkan Islam mengenai kerudung seorang wanita muslimah. Namun, meski sudah ditetapkan batasan-batasan dalam Islam, seorang pengantin masih bisa tetap kreatif dan tampil cantik di hari pernikahannya :
1.      Kerudung (Pengantin) haruslah menutup aurat dengan dijulurkan hingga menutupi dada ;

Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (An-Nur:31)

Wedding Veil and Gown by Irna La Perle
Menjulur menutupi dada, tetap simpel dan elegan

Meski harus menutup dada, namun bisa ditambahkan detail yang membedakan pengantin dengan wanita yang bukan pengantin di hari pernikahannya. Misalnya pemberian aksesoris yang rumit dan bernuansa bling-bling di jilbab , lengan, pergelangan tangan, maupun di gaun bagian bawah seperti payet yang berkilauan, pita, ornamen-ornamen cantik dan lain sebagainya. Pemberian detail aksesoris ini tidak dilarang dalam islam, sehingga aksesoris pengantin yang cantik semakin membuat sang mempelai wanita makin bersinar J

Kerudung Pengantin Syar'i : Menjulur menutupi dada

Kalaupun memang kerudung pengantin tidak terjulur hingga dada, setidaknya bisa diambil jalan tengah dengan pemberian detail kreasi gaun yang menyamarkan bagian dada, sehingga bagian dada lebih terlindungi.


2.      Kerudung pengantin hendaknya tidak memiliki punuk yang ‘tidak wajar’ karena terlalu tingginya. Seperti Sabda Rasulullah SAW :
Kerudung Pengantin
Seperti Menara
“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku melihat keduanya ; Kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia [maksudnya penguasa yang dzalim], Dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang berlenggak-lenggok. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu [jarak jauh sekali]”.(HR. Muslim dan yang lain).
Pada dasarnya istilah punuk ini mungkin merujuk padacepol yang ada pada kerudung yangs sedang tren di masa kini, dimana sebenarnya cepol ini sebenarnya adalah sanggul atau rambut pengantin yang diikat rapi dibalik kerudung.

Namun karena perkembangan tren, akhirnya kerudung pengantin pun semakin menjadi-jadi dengan makin tingginya punuk-cepolnya sehingga sudah tidak berada dalam batas kewajaran. Punuk-punuk yang terlalu tinggi inilah yang dilarang.

Menurut hemat saya, kerudung pengantin yang baik bolehlah memiliki cepol karena bisa saja itu rambut asli sang pengantin yang tebal hingga seperti sanggul. Namun tetaplah dalam batas kewajaran, dan janganlah diletakkan terlalu tinggi hingga ke ubun-ubun, atau menjulang seperti menara.

3.      Kerudung pengantin hendaknya tidak terlalu heboh hingga membuat pemakainya keberatan bahkan pusing.

Sebenarnya semua memang sesuai selera pengantin, sehingga sah-sah saja selama tidak melanggar batasan-batasan agama.

Aturan ini berdasarkan pengalaman saya sebagai wanita, dimana kerudung yang terlalu rumit, tinggi, heboh dan gak karu-karuan makin membuat pengantin kepayahan memikul beban yang berat di kepalanya, disamping harus tetap terlihat tersenyum saat menerima ucapan selamat...

Hendaknya kerudung pengantin simpel saja, jangan terlalu heboh. Jangan khawatir akan kalah dengan para tamu yang mungkin saja bisa berdandan lebih heboh. Aura pengantinlah yang akan jadi senjatanya. J Karena pengantin yang bersahaja, akan selalu bersinar karena kesuciannya. Semoga Bermanfaat.


Minggu, 27 April 2014

Penggunaan Mahendi Pengantin Dalam Pernikahan

Henna atau inai atau mahendi adalah bubuk tumbuh-tumbuhan yang dicampur air, kemudian dibubuhkan dengan pola di tangan, kaki, perut atau punggung wanita yang umumnya dikenakan dalam prosesi pernikahan. Motif henna bisa beragam, sesuai dengan kreativitas penggambarnya.

Seni menggambar tubuh ini dengan mahendi ini berbeda dengan seni melukis tubuh seperti Madame de Syuga. Body Painting menggunakan tubuh sebagai kanvas dengan kuas atau peralatan melukis umumnya.
Madame de Syuga

Sedangkan mahendi menggunakan bubuk pacar yang dilukis dengan pola tertentu yang biasanya tumbuh-tumbuhan, kemudian dibiarkan mengering hingga akhirnya meninggalkan bekas warna seperti merah, kuning, oranye atau hitam. Bekas pola warna ini akan bertahan selama beberapa hari, kemudian bisa digambar ulang sesuka hati misalnya dengan motif lain.


Apabila lukisan henna yang belum kering rusak karena tersenggol sesuatu, maka henna akan meninggalkan bekas jembret di daerah yang terkena luberan henna. Hal ini tidak jarang terjadi, yang pernah diabadikan dalam salah satu episode sitkom “New Girl”, dimana Cece yang akan menikah tidak sengaja tertidur diatas tangannya yang terkena henna... xixixixi....... beruntung Cece mampu mengatasi masalah tersebut, meski akhirnya acara pernikahannya tidak berjalan lancar.


Cece yag ketiduran saat mengenakan Mahendinya masih basah

Henna yang bersifat sementara sehingga bisa hilang dalam beberapa hari dan tetap halal. Mahendi juga berbeda dengan tattoo yang permanen dan haram hukumnya. Jadi, bagi muslimah yang beriman, apabila menginginkan tubuhnya digambar namun tetap dengan cara yang halal, maka inai bisa jadi solusi. Namun dengan pernyataan artikel ini maka hukum inai dibadan jadi agak membingungkan. 


Dari segi hukum Islam, penggunaan Henna ini disunnahkan oleh Rasulullah. Rasulullah, menyarankan memakai mahendi ini sebagai pembeda antara laki-laki dengan perempuan, sehingga perempuan lebih mudah dikenali.

Dari Aisyah ra, “Nabi melihat tangan di sebalik tirai dan berkata, apakah ini tangan lelaki atau perempuan, maka dikatakan itu tangan perempuan, maka Nabi pun bersabda,” jika kamu seorang perempuan, pasti kamu akan mengubah warna kuku kamu (dgn inai).” (Abu Daud, 4166) dan anNasa’iy (5092).

Nah, opini saya, saya mungkin akan memakai henna, tidak perlu menunggu saat menikah. Sehari-haripun saya bisa memakainya. Tapi, secara pribadi saya tidak terlalu suka dengan inai. 
 
Keengganan saya menggunakan inai muncul saat menonton film india di masa kanak-kanak dulu. Mengapa?? Karena menurut saya, penggunaan mahendi pada pengantin dan wanita India membuat tangan mereka terlihat seperti dikerubungi semut atau bahkan seperti terlihat terluka berdarah-darah karena warnanya yang merah.



Kaki dan tangannya seperti berdarah...

Meski disunnahkan Rasulullah, saya mungkin akan menggunakan alternatif lain untuk identitas kewanitaan saya, misalnya dengan penggunaan cincin feminin atau sarung tangan yang sangat cute.

Sarung Tangan Pengantin,
tanpa Henna, tanpa 'darah', tanpa tragedu Cece.
Hehhehehe.....

Jadi, mungkin saat pernikahan saya nanti, kalau terpaksa menggunakan inai, mungkin saya akan memakau yang berwarna terang, sehingga tidak seperti berdarah. heheheh... tapi idaman saya, saya akan menggunakan sarung tangan yang cantik. Selain cantik dilihat, Sarung Tangan Pengantin bisa mengurangi kontak sentuhan saat bersalaman dengan para tamu yang bukan muhrim. Iya kan??? J

Mahendi Pengantin Berwarna terang, jadi seperti tidak berdarah